• Home
  • Contact Us
  • MENAPAK-i kehidupan

    Beberapa hari lalu, aku memutuskan untuk menempel kembali foto-foto di instagram yang telah aku archive. Aku menggulir hingga bawah dan menemukan foto ini.


    Melihatnya kembali membuat ingatanku terbang ke tahun 2017, dimana saat itu setelah menonton cuplikan film dokumenter Jendral Soedirman yang diperankan oleh Adipati Dolken, aku tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut siapa itu Jendral Soedirman.

    Alinea demi alinea aku baca, hingga aku temukan kalimat yang merepresentasikan betapa berintegritasnya beliau, kalimat tersebut bisa teman-teman baca pada caption di atas. Yap, paru-paru beliau hanya berfungsi 50%, tetapi beliau tetap memilih untuk memimpin gerilya dengan keluar masuk hutan bersama prajurit. Beliau telah membuktikan bahwa TNI tidak pernah menyerah.

    Sehubungan dengan ditemukan postinganku tadi, beberapa hari lalu, aku mendapati konten youtube dengan wajah Jendral Soedirman sebagai tumbnail, menangkring indah di beranda.


    Perjalanan hidup yang telah diringkas dan diceritakan kembali dengan apik oleh kak Nadia Omara, yang membuatku semakin jatuh hati dengan sosok Jendral Soedirman. Aku rasa, siapa saja yang mengenal, membaca, atau mendengar perjalanan hidup beliau akan sama jatuh hatinya. Bahkan bapak presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno sangat mencintai Jendral Soedirman sampai-sampai meminta beliau untuk menetap dikota dan menjalankan pengobatan daripada harus memimpin pasukan melawan musuh. Selain itu, beliau juga sangat dicintai oleh Jepang, hingga Jepang mendirikan patung Jendral Soedirman di depan Kementrian Pertahanan Tokyo. Dikenal dengan kecerdasan dalam memimpin dan menyusun strategi perang gerilya, yang mana strategi tersebut diikuti oleh Vietnam dan membuat Vietnam menang dalam peperangan.

    Ada tiga hal yang selalu dijaga oleh Jendral Soedirman dalam memenangkan perang melawan penjajah ;

    1. Menjaga wudhu dan selalu membawa kendi berisi air untuk wudhu apabila wudhu beliau batal
    2. Sholat tepat waktu
    3. Niat tulus dan ikhlas (Terimplementasinya kalimat, "Apa-apa yang dilakukan dengan hati pasti akan sampai kelain hati." Dan, yaa apa yang beliau lakukan dimasa lampau bahkan masih bisa membuat jatuh hati orang-orang dimasa kini.)

    Beliau seorang yang tidak pernah lepas percaya kepada Allah, Dan, beliau adalah salah satu representasi terbaik seorang hamba yang betul-betul yakin bahwa Allah akan menolong seorang yang mempercayai-Nya.

    Dalam agresi militer II, ada kejadian dimana beliau dan pasukan bermalam di sebuah gubuk, dan ada satu diantara pasukan beliau berkhianat dan memberikan informasi dimana posisi mereka kepada musuh. Tentara Belanda pun mengepung gubuk itu, tetapi mereka tidak bisa mengenali Jendral Soedirman dan tidak menangkap beliau. Karena merasa ditipu oleh pasukan Jendral Soedirman yang memberi informasi tadi, tentara Belanda pun membunuhnya, kemudian pergi meninggalkan gubuk tersebut. Hal ini mengingatkanku pada pertolongan Allah untuk kaum muslimin saat perang Badar, yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an, 

    (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

    (QS Al-Anfal ayat 12)

    Benar saja, Allah memenangkan 313 pasukan muslimin melawan 900 lebih kaum Quraisy pada perang Badar dengan ditimpakannya rasa takut dihati kaum Quraisy dan dikirimkannya seribu malaikat untuk membantu kaum muslimin. MasyaAllah.

    Dari kisah Jendral Soedirman dan perang Badar ini, dapat kita ambil pelajaran bahwa Allah pasti akan memberi pertolongan pada mereka yang meminta pertolongan kepada Allah dan yakin bahwa satu-satunya yang dapat menolong hanyalah Allah SWT. So, kalau saat ini ada beban yang bingung ingin kamu bagi, boleh banget coba tell to Allah dan minta pertolongan ke Allah. Yakin, pasti akan Allah tolong.

    Dari manusia yang masih sangat-sangat-sangat kurang dalam berilmu dan butuh lebih banyak bimbingan. Mohon maaf atas semua kesalahan.

    Cheers! 






    Kawan, pernah terpikirkan tidak apa yang telah kita perbuat hari ini? Apa yang baru saja kita ucapkan? Apa yang baru saja kita lakukan? Dulu kita bayi yang cuma bisa menangis loh, ga ada bayangan deh kita bisa ngomong A sampai Z seperti hari ini, ngelakuin itu-ini. Kok bisa ya?

    Karena manusia punya tahapan bertumbuh, dind.  Dari yang mulai memperhatikan wajah manusia disekitar, mendengarkan percakapan mereka, meniru tingkah laku mereka, dan seterusnya.

    Yaps betul, ada sesuatu yang terinput ke dalam otak dari melihat dan mendengar sekitar kita. Sehingga sesuatu itu tertanam di dalam otak kita. Akhirnya, kita tahu bagaiman cara berbicara. Kita tahu bagaimana cara mengendarai sepeda. Kita tahu bagaimana mengoperasikan benda mati yang ada hurufnya. Kita tahu kalau yang ada cahaya, jauh diatas sana, dan panas itu matahari. Kita tahu kalau yang dipakai di tubuh itu baju. Kita tahu kalau yang sudah terlewatkan itu ya cukup diikhlaskan bukan memperpanjang penyesalan, hahaha bercanda. Kita bisa mendeskripsikan banyak hal, paham bagaimana mengoperasikannya, dan megetahui apa kegunaannya. Itu di dapat dari sesuatu yang masuk ke dalam otak kita yang disebut INFORMASI.

    Nah, kita hari ini pun sama. Apa yang masuk ke otak kita secara terus-menerus, itulah yang membentuk siapa kita hari ini. Kawanku, apakah kalian pernah punya mimpi ingin menjadi orang yang bermanfaat? Apakah kalian sekarang malah merasa menjadi beban keluarga atau sekarang sudah mulai tercapai mimpi itu walaupun sedikit demi sedikit? Jika belum, coba deh kita cek ke dalam otak kita. Jangan-jangan kita salah menginput informasi.

    Gimana tuh caranya? Oke, kita coba dari yang sering banget kita buka ya. Misal instagram, akun apa sajakah yang paling-paling banyak kita follow? Konten apa yang mereka suguhkan? Misal, Makan-makan saja atau masak-masak juga? Biasanya kalau lihat yang makan-makan saja kita jadi ikutan laper kan ya? Pengen makan terus, masak kaga. Kalau masak-masak walaupun laper kan jadi dapat ilmu cara memasak yang insyaAllah bisa bermanfaat ketika merantau maupun sudah menjadi istri nanti, jiakh. Jadi, maksud lu ga boleh nonton acara makan-makan gitu? Jadi, maksud lu acara makan-makan itu konten ga bermanfaat gitu? Kan, MISAL oi MISAL! Jadi, boleh kan ya nonton acara makan-makan? Boleh, monggo kalau itu sesuai dengan output yang anda inginkan. Mungkin anda ingin menjadi food vlogger, jadi anda perlu lebih banyak input tentang makanan agar output yang anda keluarkan berupa penjabaran yang mudah dipahami.

    Ah! Itu kan cuma sebentar aja lewat di beranda. Lebay lu, dind! Eits, tunggu dulu! Kira-kira berapa kali kita buka instagram sehari? Akun serupa yang kita follow apakah cuma satu aja? Apakah akun tersebut cuma upload sekali seminggu? Jika tidak, hati-hati ya teman. Kita terbentuk dari informasi yang kita input ke dalam otak berulang kali, ya walaupun sedikit-sedikit walaupun sebentar-sebentar tapi kalau berulang, otak akan merekam itu dan membentuknya menjadi sebuah output.

    Ini baru contoh instagram saja yah, belum media sosial yang lain, belum siapa yang sering kita ajak diskusi, belum lingkungan kita, belum buku yang kita baca, belum tempat yang sering kita kunjungi. Itu semua ladang informasi gratis, yang mudah terserap oleh otak kita.

    Di dunia yang makin massive informasi ini, rasanya semua terdengar, terlihat, terasa sah-sah saja ya? Nonton ini ah, kan cuma sekali. Nonton itu ah, kan banyak juga yang nonton. Kita hanyut, terbawa arus, dan saat tiba di laut lepas, kita gelagapan berenang untuk menepi. Tapi pertanyaannya, apakah kita sanggup berenang ketepian saat sudah berada di tengah lautan?

    Apabila hati kita mulai memberi sinyal buruk, semacam alarm kebakaran ketika kita melakukan sesuatu hal. Tolong jangan diabaikan. Coba deh telusuri dulu informasi apa yang tanpa sadar terinput secara berulang ke dalam otak kita. Jangan-jangan informasi itu yang membuat output yang bertentangan dengan hati kita.

    Suudzon mulu lu, dind. Lah, kok? Itu, jangan-jangan, jangan-jangan mulu. Cuma bantu ngajak berpikir aja sih, manusia kan dianugerahi akal. Dan, setan senantiasa bergembira membuat tipu daya. Kalau kita tidak selektif, dengan mempertanyakan terhadap apa yang otak kita konsumsi, mudah bagi setan mengelabui.

    Yee, ujung-ujungnya bawa agama. Iyaa, soalnya kalau bawa dosa, berat. Kita tidak akan kuat.

    Mau diresapi kemudian dipahami, alhamdulillah. Mau diabaikan kemudian ditinggalkan, semoga suatu hari terketuk hati untuk berkunjung dan membaca kembali.

    sisipan


    Dari manusia yang masih butuh banyak bimbingan, banyak kesalahan dan kurang pengetahuan, mohon dimaafkan. Dari manusia yang masih minim ngaji, pamit undur diri.

    Cheers!

    Selepas kerja tadi tidak sengaja scrolling Linkedin dan tidak sengaja pula ingatan tertarik mundur pada masa menjadi jobseeker beberapa bulan yang lalu. Malamnya, buka list perusahaan yang sudah aku lamar seperti dibawah ini (beberapa masih ada yang belum masuk list).

    Gambar pribadi

    Jadi teringat gimana dulu nangis terus sampai adik tersayang berkata, "nangis lagi." Hahaha, kalau dipikir diri ini emang bawang banget sih, nonton Avangers:Endgame aja bisa nangis sendiri. Kalau kata emak 'gembeng', hahaha. Bagi sobat gembeng, mari kita bergandeng tangan, karena kalian tidak sendirian. Gapapa, nangis aja kalau emang pengen. Emang ga menyelesaikan masalah, tapi pasti bikin lega. Nanti masalahnya juga akan selesai, cuma kadang Allah ngasih kita waktu lebih lama buat bersabar menghadapi masalah aja sekarang, supaya kita bisa nabung pahala lebih banyak dari kesabaran yang kita amalkan.

    Back to story, bersamaan dengan moment mengenang lika-liku hidup sebagai fresh jobseeker itu, aku jadi membandingkan problem yang aku alami saat itu ternyata tidak ada apa-apanya jika dibandingkan problem Siti Hajar yang ditinggalkan Oleh Nabi Ibrahim tanpa aba-aba, dan meninggalkan tanda tanya, bahkan Nabi Ibrahim tidak menengokkan kepala. Hingga Siti Hajar berlari ke arah Nabi Ibrahim dan memastikan bahwa ini adalah perintah dari Allah. Kemudian, Siti Hajar mendapatkan jawabannya bahwa benar itu titah Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim. Waktu terus berputar dan Siti Hajar terus berusaha mencari minum untuk Nabi Ismail kecil yang kehausan dengan bolak-balik dari Shofaa ke Marwa demi mendapatkan air untuk Nabi Ismail. Beuh, beliau keren banget menurutku. Tidak ada ucapan, "Kenapa aku ya Allah?" Ga ada. Tidak ada adegan, "Jangan tinggalkan aku, mas." Ga ada. Beliau terus try, try, try, and believe to Allah. Eits! Untuk laki-laki di akhir zaman tolong jangan sok-sokan seperti Nabi Ibrahim, ninggalin istri kalian di tengah jalan,  bahkan dengan sebuah alasan, ya! Kalian bukan Nabi. Catat!

    Dari situ aku paham, kenapa Allah percaya banget sama Siti Hajar untuk meanggung itu semua. Iman beliau bukan kaleng-kaleng sepertiku, yang awalnya cuma mau healing sambil buka instagram. Eh, melihat orang tidak aku kenal lewat beranda membuat konten berisi saran, dengan tanpa sengaja aku berprasangka, "Cuma mau iklan wajah ini mah." Allahu Akbar, hinanya diri ini. Astaghfirullah. Se-smooth itu loh setan membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Segampang itu pula aku terhasut oleh bisikan setan. See, betapa lemahnya iman ini apabila dibandingkan dengan Siti Hajar. Betapa mudah terkoyak iman ini  jika saja tidak selalu-kembali Allah kuatkan. 

    Kadang malu sendiri, pengen ketemu Nabi Muhammad SAW pas nanti di akhirat, tapi iman masih kayak yupi begini. Kadang malu sendiri, pengen dipercaya Allah banget, tapi waktu nyari kerja doa dengan mendikte Allah itu-ini. Kadang malu sendiri, pengen seperti Siti Hajar yang ditempa sedemikian hingga masih beriman  hingga mati, tapi sekarang pikiran ini malah sibuk memikirkan keburukan di luar diri. 

     Jadi apa sih inti dari ceritaku ini?

    1. Tidak apa-apa merasa sedih, merasa saat ini ada di bawah, merasa berat. Tetapi, jangan sampai hilang percaya pada-Nya yah
    2. Mari belajar dari Siti Hajar yang terus try, try, try, and Believe to Allah
    3. Setan itu cari teman yang banyak untuk digandeng ke neraka, maka dari itu caranya tidak kaleng-kaleng sobat. Kadang yang menurut kita itu baik ternyata itu dari setan bukan dari Allah. Maka dari itu, mari intens membaca surat Qul beserta artinya bersama-sama.
    4. Jangan berkecil hati kalau iman masih kayak yupi, selama Allah masih memberi hidup sebagai rezeki maka kita masih bisa memperbaiki dan mendekatkan diri agar Allah ridhoi sehingga iman kita bertahan sampai mati, sampai kita bisa reunian di surga nanti.


    Dari manusia yang masih minim ilmu kehidupan dan masih butuh banyak bimbingan, mohon maaf atas semua kesalahan. Dari manusia yang masih minim ilmu ngaji, pamit undur diri.


    Cheers!


    Malam-malam keinget cokelat yang dibeliin ayah minggu lalu yang masih aku simpan dalam kulkas. Lalu, aku buka kulkas dan mengambil cokelatku. Ku buka bungkusnya dan ku potek kotak bagian pertama. Kemudian aku gigit setengahnya. Hiyaa pada ngiler yak? hahaha. Malah jadi iklan gini.
    Foto Pribadi 2022

    Lanjut cerita, aku ingat lagi waktu tanggal 14 kemarin ramai betul pada dikasih cokelat sama ayang kan ya? Dan, tanggal sebelum 14 itu 13, ya iyalah masa 10. Di tanggal 13 itu inget banget, aku lihat postingan di jktinfo apa ya? Pokoknya suatu produsen cokelat terkenal di Indonesia bernama Silver Queen bagi-bagi cokelat gratis di hari itu dan besoknya. Mana, waktu itu lagi pengen banget yang manis-manis. Terucaplah, "Ya Allah pengen cokelat". Sebenarnya bisa ke supermarket terus beli sendiri dan setiap ke supermarket lewatin itu cokelat, tapi pas lihat ga jadi pengen beli. Hahaha. 

    Long story short, tanggal 20 kemarin aku ke supermarket sama ayah buat jajan. Kala itu, di dekat kasir ayah noel bahu. "Ga mau itu?" sambil nunjuk cokelat. Tentunya dengan semangat aku langsung ambil satu. Ayah bilang dua sekalian juga gapapa. "Yeay! oke!" (Manusia 20th++ bersorak sorai karena dua batang cokelat hahaha). 

    Kayaknya kalau dibaca ini tuh hal yang biasa ya? Atau bahkan biasa orang-orang menyebutnya kebetulan. Tetapi, yang aku yakini seperti kata Bung Fiersa Besari, "Kebetulan adalah takdir yang menyamar" dan takdir itu dituliskan oleh Allah. Mungkin ada juga pemikiran ya wajar aja si dikasih bokapnya. Hehe, itu mah pemikiran-pemikiran kamu saja, nak (berbicara pada diri sendiri).

    Eits, aku tidak ingin menggarisbawahi perihal cokelat itu kawan. Inti dari kisahku malam ini adalah aku dikasih cokelat ayah karena Allah denger keinginan yang bahkan aku aja keinget dua minggu setelahnya. 

    So, pesan moral yang bisa dipetik adalah buat kita yang ngerasa kenapa doa-doaku belum juga terkabulkan? Pasti beberapa sudah, tapi bisa jadi kita lupa doa apa, mana, dan kapan yang sudah Allah ijabah. Tugas kita sekarang cukup terus saja berdoa, berusaha, dan percaya pada-Nya. Urusan kapan didatangkan, kapan dipertemukan, kapan diberikan cukup kita pasrahkan. Bukan begitu, kawan? 

    Oiya, cukup juga lihat doa orang lain yang sudah di ijabah Allah yaa, apalagi membandingkan doa kita yang kita rasa belum terijabah. Berat. Aku selalu percaya apa yang mereka tampakkan itu tidak 100% kehidupan mereka, pasti ada kesabaran, kesedihan, kemarahan, kekecewaan, penyesalan, dan berderet ujian lainnya yang Allah beri. Mereka hanya menampakkan secuil saja dari kehidupan yang sebenarnya.

    Don't think that someone else is more blessed than you are, Allah blessed us in different ways. -Sabrful 

    Jangan berpikir orang lain lebih diberkahi daripada kamu, Allah memberkahi kita dengan cara yang berbeda. -Sabrful 

    Main rumah ayang bawa kue lapis 
    Tidak lupa bawa martabak manis 
    Kawan-kawan ayo optimis 
    Karena kasih Allah tak akan pernah habis 

    Dari manusia yang masih sangat-sangat-sangat kurang dalam berilmu dan butuh lebih banyak bimbingan. Mohon maaf atas semua kesalahan.

    Cheers!

    Beberapa hari ini rasanya ingin menulis, tetapi bingung mau menulis apa. Pasalnya, seperti ada yang kurang jika otak dan perasaan tidak sepenuhnya terfokus pada apa yang aku tulis. Seperti ada yang janggal, seperti ada yang kurang. Alhamdulillah, malam ini ada angin segar membawa inspirasi.

    Di hari yang cerah, pada tahun 2017 (Kalau diingat lagi sudah lama sekali ya hahaha). Waktu itu aku mengikuti sebuah akun selebgram bernama @wirda_mansur, dimana saat itu Wirda sedang menjalani study di luar negeri. Di instagram ia aktif berbagi pengalaman serta tips-tips atau lebih ke amalan-amalan apa saja sih yang dia rutin lakukan hingga bisa menjelajah beberapa negara, yang menurutku saat itu ia termasuk usia belia. Dari mulai rajin membaca Al-Waaqiah hingga shalawat untuk meraih mimpinya.

    Cerita dimulai dari sana. Saat itu aku seorang yang masuk kategori tidak tahu mau masuk jurusan apa, mau kemana, pun punya cita-cita apa. Hahaha, untuk adik-adik tolong jangan ditiru mbak satu ini yah, tolong segera find your dream and make it comes true oke! Setelah baca ini semoga kalian wahai 'malunyaan' manusia belum punya tujuan (bukan manusia belum punya pasangan ya, tolong dicatet!) segera mendapatkan titik terang yang kalian sebut sebagai tujuan.
    Foto Pribadi 2017

    Nah, aku mulai tertarik untuk memiliki mimpi yang sama seperti Wirda saat itu, 'Kayaknya seru bisa ke luar negeri, pengen'. Berangkatlah aku mengikuti amalan-amalan yang wirda sebutkan tadi, termasuk kertas yang aku tempel di beberapa tempat dengan tulisan yang sama seperti gambar di atas (tulisannya harap dimaklumi yah). Pokoknya aku pepeeet terus Allah dengan sepenuh raga tapi separuh jiwa.

    Atas izin Allah, Allah beneran mengabulkan doa-doa itu. Pada September 2019 pertama kalinya aku menginjakkan kaki di negeri tirai bambu untuk menyelesaikan program study ku setelah banyak penolakan-penolakan yang aku dapatkan. Long story short, aku tinggal di sana, adaptasi dengan budaya, makanan, hingga pola hidup di sana. Rasanya senang bukan kepalang tetapi seperti ada yang kurang. I couldn't figure it out. Hingga pandemi menyapa, aku makin merasa kayak di dalam diri aku berkecamuk. Seakan ada beberapa kelompok di dalam sana yang lagi berperang merebutkan kekuasaan.

    Suatu ketika aku ada dititik mempertanyakan, aku sudah menggapai mimpiku loh, Allah sudah berikan itu padahal. Tetapi kenapa masih kurang? (Cerita ini bisa kalian baca di http://www.menapakikehidupan.my.id/2021/12/tips-meningkatkan-semangat-hidup.html?m=1) Dan, ketika aku krisis tujuan hidup, bersaman dengan itu perasaanku sedang terombang-ambing karena belum juga mendapat pekerjaan. Waw, double kill! hahaha.

    Baiknya Allah, dari situ tuh aku mulai digerakkan hati untuk melakukan metode root cause analysis dan mencoba jujur ke diri sendiri. Dari mimpiku yang ingin ke luar negeri, saat itu dalam hati yang paling dalam aku tidak sepenuhnya tahu kenapa sih aku harus ke luar negeri? Kenapa sih aku harus memilih impian keliling dunia? Apakah agar aku kira ini mimpi yang tinggi, supaya sama kayak yang lain 'janganlah takut bermimpi tinggi'. Iya memang tinggi sih, tapi apakah ini yang aku butuh? Aku temui jawaban itu tahun lalu, dan jawabannya 'tidak sepenuhnya aku butuh, tidak sepenuhnya aku tahu'. Dan itulah kenapa aku mengatakan di paragraf sebelum-sebelumnya "Pokoknya aku pepeeet terus Allah dengan sepenuh raga tapi separuh jiwa." Inti permasalahan adalah mimpiku saat itu, bukan yang aku butuh pun bukan yang sepenuhnya aku mau.

    Sehingga aku menemukan bahwa aku harus membetulkan niat dan tujuanku agar tidak lagi aku bertanya 'aku sudah dapat, lalu apa?'. Kemudian, aku mulai bertanya pada diri sendiri apa yang membuat aku tenang dan senang saat melakukannya. Hingga aku menemukan ketenangan ketika aku bisa mengingat-Nya, aku senang mencari tahu apa yang Ia suka. Aku mulai seleksi ulang beberapa impian yang dari dulu aku pegang. Beberapa yang sekiranya tidak membuatku meraih ridho Allah mulai aku singkirkan. Beberapa yang sekiranya lolos menjadi jembatan meraih ridho Allah, dalam doa-doaku sematkan. Alhamdulillah semenjak itu sekalipun ada guncangan, Allah memberi aku tenang.

    Jika saat ini belum memiliki tujuan, coba direncanakan, buat daftar pilihan kemudian tetapkan. Hanya sekedar saran, lebih baik memilih ridho Allah sebagai tujuan. Karena jika ridho Allah sudah di dapatkan, insyaAllah hati akan ditenangkan, urusan akan dimudahkan, pikiran berisi kebaikan-kebaikan. Menyenangkan bukan?

    Oiya, kelupaan. Coba telusuri makna ayat-ayat pada surat yang pasti kita baca saat sholat, di peramban. Seperti 'yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka (para nabi, shidiqqin, sahabat, dan pendahulu kita)' penuh cobaan, karena yaa surga yang jadi ganjaran. Mari saling menguatkan, supaya di surga kita bisa reunian.

    Dari manusia yang masih sangat-sangat-sangat kurang dalam berilmu dan butuh lebih banyak bimbingan. Mohon maaf atas semua kesalahan.

    Cheers! 

    Hari ini, mari kita bahas topik tentang sedekah. Kawan-kawan sering tidak, mendengar bahwa, “Bersedekahlah maka rezekimu akan dilipat gandakan oleh Allah” atau “Kemarin aku bersedekah ke xxxx dengan nominal 1.000.000, lalu beberapa hari atau bulan atau tahun kemudian tanpa aku minta kakakku memberiku 10x dari sedekah yang aku berikan tempo hari.” Atau kalimat yang senada dengan itu mungkin? Jika pernah atau bahkan sering, ya kita sama.

    Kemudian, semakin banyak yang membagikan pengalaman-pengalaman serupa kepada khalayak ramai. Seperti keajaiban-keajaiban yang sekiranya tidak pernah terpikirkan mulai bermunculan. Dan, keluarlah kesimpulan bahwa semakin banyak kita bersedekah, semakin banyak pula kita akan menerima. Tidak salah memang, bahkan tidak sedikit yang tergerak hatinya untuk mulai bersedekah. Pun, di dalam Al-Qur’an juga dijelaskan yang demikian.

    Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah peinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. (QS. Al hadid: 18).

    Menanggapi fenomena yang terjadi akibat dari kalimat persuasive seperti diatas, dimana akupun pernah tertarik bahkan melakukan metode yang sama. Ya, aku berniat sedekah untuk mendapat perlipat gandaan dari sesuatu yang aku sedekahkan hahaha. Menurutku, kalimat seperti diatas akan sangat mudah memberi pengaruh kepada orang lain, apalagi sebagian besar manusia menginginkan sesuatu yang kasat mata serta sangat mudah untuk menyimpulkan. Seperti halnya pengalaman-pengalaman tadi. Hingga, suatu ketika aku seperti ditampar oleh sebuah kenyataan bahwa itu merupakan sesuatu yang kurang tepat. Yaa, mungkin teman-teman pernah merasa seperti ini atau mungkin aku saja yang mengalaminya? Dan, dampaknya ketika kita berharap bahwa itu akan dilipat-gandakan seperti apa yang kita beri atau sesuatu yang lebih (bersifat duniawi) tidak kita dapatkan, akhirnya kita pun kecewa. Berangsur-angsur mempertanyakan tentang keutamaan sedekah ini.

    Ternyata saat itu aku mengenal sedekah hanya untuk kepentingan duniawi saja, hanya untuk mendapatkan hal-hal yang berbau duniawi. Padahal jika dipelajari lebih dalam, sedekah  memiliki keutamaan lebih yang menurutku sangat layak untuk dijadikan motivasi bersedekah. Seperti berikut;

    1. Meringankan langkah kita menuju surga, 

    Alfialghazi, Instagram

    Alfialghazi, Instagram

    2. Dan, dari sini https://www.dictio.id/t/apa-saja-tujuan-dan-keutamaan-sedekah-menurut-agama-islam/48215/3

    Sekali lagi aku tegaskan bahwa, memang kalimat yang aku jadikan sorotan tadi menurutku kurang tepat. Karena, kalimat diatas seperti mengajakku untuk berorientasi pada kemewahan dunia. Padahal, hakikat sedekah untuk membersihkan jiwa dari cinta dunia dan salah satu bentuk cinta dunia adalah mencintai harta yang berlebihan. Selain itu, Allah pasti melipatgandakan apa yang ikhlas kita keluarkan untuk selain kita sesuai dengan firman Allah di surat Al-Hadid ayat 18, hanya saja kadang bentuknya bukan materi, bisa jadi; perasan semakin cinta Allah, sahabat yang selalu ada, teman yang selalu mengingatkan pada kebaikan keluarga yang masih lengkap, kucing yang lucu, ketenangan batin dan banyak hal baik lainnya. 

    Oiya, berikut aku lampirkan tips-tips sedekah sederhana yang sangat menginspirasi;

    Mutiara, Quora

    Atau bisa dibaca juga disini;


    https://id.quora.com/Apa-ide-sedekah-yang-anti-mainstream-tetapi-tetap-bermanfaat

    Aku harap tulisan ini membantu. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang menjauhkan kita kepada Allah. Aamiin.

    Dari manusia yang masih sangat-sangat kurang dalam berilmu agama, saya mohon maaf atas kesalahan yang ada.

     

    Cheers!


    Sources:

    https://www.inews.id/lifestyle/muslim/ayat-al-quran-tentang-sedekah-infaq/3

    https://www.dictio.id/t/apa-saja-tujuan-dan-keutamaan-sedekah-menurut-agama-islam/48215/3

    https://www.instagram.com/p/CZUPei4BhWf/?utm_source=ig_web_copy_link

    https://id.quora.com/Apa-ide-sedekah-yang-anti-mainstream-tetapi-tetap-bermanfaat

    Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Ya, sudah sering mendengar kalimat ini yah? Dan, aku sangat setuju akan itu. Karena hidup ini terus membawa kita untuk bergerak, untuk melakukan sesuatu hal yang akan mengantarkan kita pada akhir tujuan yaitu berpulang ke rumah-Nya.

    Pict by Yayay Minjah

    Tidak terasa, ternyata aku berjalan sudah begitu jauh hingga sekarang usiaku 22 tahun, hingga sekarang aku sedang beradaptasi dengan dunia kerja, hingga sekarang aku sudah mulai memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan harianku sendiri. Padahal, jika ingatanku ditarik kembali, aku akan menemukan diri ini menangis karena kaki tersangkut di ayunan pun tertawa saat bermain petak umpet waktu TK, menangis karena tidak sengaja menelan permen expresso pun tertawa saat bermain lompat tali semasa SD, menangis ditinggal alm. Mas merantau untuk sekolah ke Boyolali Kota pun tertawa bersama regu paduan suara saat SMP, menangis saat aku merasakan culture shock pertama pun tertawa karena adegan film bioskop dengan teman semasa SMA, menangis ketika aku tidak bisa memahami apa itu flowcart, apa itu index, apa itu array pun tertawa ketika menapakkan kaki di China saat kuliah, hingga menangis karena tidak kunjung mendapat panggilan kerja pun menangis terharu setelah mendapat kerja akhir-akhir ini. Aku tidak tahu akan sampai episode mana tangisan dan tawaku berlanjut. Aku harap semua yang aku lalui bisa membawaku mudah untuk sampai kepada-Nya.

    Kenapa tidak menginginkan episode dengan isi tawa saja di masa depan? Karena aku menyadari, pada saat aku menangis sedih kemarin, aku sampai bisa menangis terharu. Jika saja aku menginginkan adanya tawa saja, apakah mungkin aku akan seterharu ketika aku merasakan tangisan terlebih dahulu? Aku rasa tidak. Lalu, kamu mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi padamu? Bukan, aku bukan berharap melainkan menyadarkan diriku saja bahwa kemungkinan buruk pun bisa terjadi dalam perjalananku ini. Kejadian buruk yang menimpaku bisa jadi adalah alarm yang diberikan oleh-Nya atas dosa yang sengaja maupun tidak sengaja aku perbuat, agar aku tersadar dan kembali ke jalan-Nya, kejadian buruk yang menimpaku pasti akibat dari ulahku sendiri. Semoga dengan izin Allah, Allah terus mengingatkanku untuk tidak lelah memperbaiki diri hingga akhir hayatku ini.

    Pernah tidak kamu berada pada titik dimana kamu tidak tahu lagi harus bagaimana? Kehilangan semangat? Kehilangan keinginan untuk bertekad?  Bahkan kehilangan tenaga untuk menyantap teh hangat? Rasanya seperti kita hidup tapi mati. Tidak ada kehidupan di dalam diri kita, tidak ada tujuan yang ingin kita tuju. Atau, kita mempunyai impian tetapi setelah kita mencapai itu, kita kemudian bertanya-tanya "lalu apa?". Tidak ada kebahagiaan, hanya kehampaan yang bersarang di hati?

    Aku pernah sobat, "Hidup tidak akan membosankan jika kita mempunyai tujuan" adalah quote yang aku tulis, aku tempel di dinding, kemudian aku aamiinkan dalam hati. Setiap aku melihat tulisan itu, dalam benak selalu mengiyakan. Hingga suatu ketika Allah mengijinkanku tidak lagi hanya mengiyakan tetapi mulai mempertanyakan. 

    Iya ya? Tujuan aku hidup ini apa ya? Aku sudah sampai di titik ini. Sudah mendapatkan apa yang sempat aku minta ke Allah dulu. Tapi kok rasanya sekarang ini aku ga ada semangat lagi ya? Aku harus punya tujuan seperti apa agar aku tetap semangat menjalani hari demi hari hingga tubuhku berbaring di liang lahat nanti?

    Pertanyaan itu, mencuplik sebuah nasihat yang pernah aku dengar dahulu kala. Katanya "Urip iku mung mampir ngombe". Hidup itu cuma mampir minum. Kalau minum itu biasanya cuma sebentar. Berarti hidup itu tidaklah lama. Kemudian, Allah seperti sengaja menasihatiku dan dengan tanpa sengaja aku sering membaca postingan serupa, mendengar nasihat serupa. Kemudian, aku percaya bahwa surga itu benar-benar ada. Semakin yakin karena postingan yang aku bilang serupa tadi salah satunya mengatakan bahwa dunia ini bukanlah rumah yang sebenarnya. 

    Sebelum aku tersadar, saat itu hidupku benar-benar kacau, seperti hidup tapi tidak hidup.  Setiap hari aku ingin tidur kemudian bangun-bangun sudah ada di surga ketemu sama Allah sama mas(percaya diri sekali saya ini akan masuk surga padahal dosa masih banyak), cerita ke Allah kalau di dunia capeek dan sumpek banget(Alhamdulillah lewat postingan juga kalau mau ngobrol sama Allah di dunia juga bisa)


    Menurutku itu worth it, kawan. Coba buat cerita ke Allah dari mulai hal-hal sepele sampai ke problems yang kita anggap beraat banget. Kita juga seperti itu kan ya? Hubungan bisa begitu erat, dekat, dan hangat dimulai dari sebuah percakapan-percakapan kecil yang kadang kita mikir kalau itu ga perlu dibahas. Sahabat cerita ke kita yang sekarang ldr, tentang hari yang dia lalui, kamu pasti excited banget kan?  "Alhamdulillah dia baik-baik aja, padahal baru aja mau aku chat. Ih, seneng deh". Seperti itu bukan, kawan?

    Jadi, intinya apa? Kalian pernah tidak jatuh cinta? Apa yang ada dipikiran dan hati kalian? Pasti dia kan? Apa-apa pokoknya tentang dia. Mau buka pelastik sedotan saja ingat dia, "Biasanya X nih yang bukain plastik", atau kamu mau buka tutup botol A*ua, "Y bisa buka tutup sendiri ga ya?" (Padahal setiap hari Y angkat dan pasang galon sendiri hahaha). Yaa, semacam itulah.

    Nah, tipsnya adalah JATUH CINTALAH! Ya, JATUH CINTA SAMA ALLAH. Memang jatuh cinta itu bisa direncanakan apa? Bisa kawan, bisa. Pernah mendengar cerita sepasang suami istri yang menikah tetapi yang jatuh cinta hanya sepihak? Seperti sinetron saja ya? Tetapi, ini nyata. Aku pernah mendengar dan melihatnya. Awal mula, pasangan yang belum jatuh cinta ini menerima, kemudian berniat, sedikit demi sedikit kebaikan pasangannya terlihat, beliaupun mulai memikirkannya, mulai terbuka, semakin hari semakin beliau melihat kebaikan dan cinta yang begitu besar, hingga beliau jatuh cinta.

    Kurang lebih seperti itu, sobat. Coba diterima jika benar adanya yang paling-paling-paling-paling mencintai kita adalah Allah SWT. Kemudian coba tarik kembali ingatan kita tentang kebaikan-kebaikan Allah untuk kita, misal sudah berapa kali Allah selamatkan hidup kita? Kemudian coba terbuka sama Allah try to talk little things to Allah, coba apa-apa yang dipikirkan Allah, coba saja dulu, jika kita konsisten, dengan ijin Allah kita pasti bisa jatuh cinta dengan Allah. Setelah jatuh cinta, kita akan tahu tujuan kita apa. Pastinya kita akan lebih semangat karena ga mau ngecewain Allah. Ga mau dijauhi Allah. 

    Sebagaimana Nabi Muhammad SAW menjabarkan bahwa Allah berfirman, “Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku terhadapKu, dan Aku akan bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia menyebut-Ku didalam dirinya, maka Aku kan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang-orang yang lebih baik dari itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku kan datang kepadanya dengan berlari.” (HR.Muslim).

    Allah always with us whenever and wherever we go.
    Cheers!


     


    Bismillah,

    Alhamdulillah atas izin Allah bisa membagi cerita di sini lagi. Hari ini aku baru saja memahami sebuah jawaban yang Allah berikan dari doa-doa yang telah aku langitkan. Jawaban itu tidak semua aku dapat dengan waktu  singkat. Ada yang berhari-hari, berbulan-bulan, kalau untuk bertahun alhamdulillah aku belum menemukannya. Hehe.

    Ada seorang ibu yang sudah sepuh, usia beliau sudah lebih dari setengah abad. Beliau bukan seorang perempuan yang memiliki sangat banyak materi tetapi segala sesuatunya selalu Allah cukupkan. Beliau jarang marah, nada bicara yang lembut, dan senang dalam melakukan berbagai kebaikan. Setiap ada seorang yang meninggal, beliau akan menyempatkan melayat, entah pagi setelah subuh atau malam hari. Beliau pasti menyempatkan. Suami beliau telah berpulang beberapa bulan yang lalu, tetapi beliau bisa begitu terlihat kuat, begitu terlihat ikhlas. Setiap beliau memiliki makanan atau rezeki lainnya, yang beliau pikirkan pertama kali adalah orang lain, bukan diri sendiri.

    Setiap mengingat hal ini, aku selalu bertanya. Kok bisa ya beliau terlihat damai? Kok bisa ya beliau begitu ikhlas menerima? Kok bisa ya beliau begitu ikhlas memberi? Kok bisa ya?

    Ada satu hal yang aku temukan. Beliau yakin, ya, beliau yakin bahwa Allah yang Maha Mengetahui, Allah yang Maha Pemberi, Allah yang Maha Melindungi, Allah yang Maha Segalanya. Beliau menggantungkan hidup sepenuhnya hanya kepada Allah SWT bersama dengan mengerjakan apa yang beliau bisa usahakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, beliau terus meminta kepada Allah.

    "Allah itu suka kalau kita minta yang banyak ke Allah." - Ustadz Hanan attaki & Ustadz Adi Hidayat

    Ketika selesai sholat beliau akan terduduk lama diatas sajadahnya. Beliau pernah mengatakan bahwa beliau mendoakan keluarganya, tetangga-tetangganya, teman-temannya, bahkan abang tukang bakso yang lewat pun masuk dalam daftar doa beliau. Pernah, beliau bercerita bahwa dulu saat masih sekolah, di kos beliau ada sebuah makam kecil di tengah halaman kos. Setiap hari, beliau bersama kedua temannya mendatangi makam tersebut untuk mendoakannya. Bahkan seseorang yang beliau tidak pernah bertemu di dunia pun beliau doakan.

    Kalau merujuk ke penggalan kalimat yang aku cetak miring, sepertinya ibu ini favorite Allah banget ya? Apa-apa dibawa ke doa, apa-apa dibawa "Pokoknya yakin aja deh sama Allah." Makanya Allah cukupkan, bahkan mungkin ibu itu ngerasanya Allah lebihkan.

    Kemudian aku mencoba melakukan hal yang sama. Tidak yang langsung bisa ikhlas banget itu, tidak. Aku mencoba dengan cara memaksakan diri. Doainnya orang-orang di sekitarku aja. Pelan-pelan juga buat yakin kalau Allah pasti akan ngasih yang terbaik. Dengan izin Allah, akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu hal. Allah itu pasti denger suara hati kita, cuma kitanya aja yang mau bersabar atau tidak menunggu jawaban dari Allah. 

    Pernah suatu hari di kos bareng sama Efrida, aku ngomong pengen makan A. Malemnya, mbak sama mas sepupu dateng ngasih itu makanan,  sampe Efrida tanya, "Loh dind, apa kamu bilang ke mbakmu kalo pengen A?" Tidak. Jawabannya tidak kawan-kawan. Aku saja tidak tahu kalau mbak mau ke kos ngirim makanan. Ada lagi, beberapa hari yang lalu aku pengen banget roti isi cokelat, tetapi yang ada cuma isi gula di rumah. Beberapa hari kemudian mbakku pulang kerumah, bawa roti isi cokelat dan diberikan kepadaku. Ada lagi, aku berencana mau beli sumpit dari sebulan yang lalu kurang lebih. Tiba-tiba, Efrida bilang di grup kalau Ida ngirim kado buat aku, dan salah satunya ada sumpit.

    Tidak hanya itu jawaban-jawaban yang Allah beri. Masih banyak lagi. Semoga teman-teman menemukan jawaban dari doa-doa kalian. Janji Allah itu pasti.

    Selamat malam.



    Older Posts Home

    Quote

    There is no easy things in this world without blessing that Allah gives.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • Petualang
    • Janji Allah itu Pasti
    • Cara Ampuh Meningkatkan Semangat Hidup

    Search This Blog

    Blog Archive

    • ▼  2022 (7)
      • ▼  July (1)
        • Bertemu Jendral Soedirman Kembali
      • ►  April (1)
      • ►  March (1)
      • ►  February (2)
      • ►  January (2)
    • ►  2021 (4)
      • ►  December (1)
      • ►  September (3)
    • ►  2019 (2)
      • ►  December (1)
      • ►  September (1)
    • ►  2018 (2)
      • ►  April (1)
      • ►  March (1)
    • ►  2017 (5)
      • ►  November (5)
    Powered by Blogger.

    Report Abuse

    • Beranda

    About Me

    My photo
    Dindarendraa's
    View my complete profile

    Pengikut D

    Popular Posts

    • Petualang
    • Apa yang membentuk kita?
    • Janji Allah itu Pasti
    • Masih Belum Punya Tujuan Hidup

    Trending Articles

    • Petualang
    • Janji Allah itu Pasti
    • Cara Ampuh Meningkatkan Semangat Hidup

    Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi