Masih Belum Punya Tujuan Hidup

Beberapa hari ini rasanya ingin menulis, tetapi bingung mau menulis apa. Pasalnya, seperti ada yang kurang jika otak dan perasaan tidak sepenuhnya terfokus pada apa yang aku tulis. Seperti ada yang janggal, seperti ada yang kurang. Alhamdulillah, malam ini ada angin segar membawa inspirasi.

Di hari yang cerah, pada tahun 2017 (Kalau diingat lagi sudah lama sekali ya hahaha). Waktu itu aku mengikuti sebuah akun selebgram bernama @wirda_mansur, dimana saat itu Wirda sedang menjalani study di luar negeri. Di instagram ia aktif berbagi pengalaman serta tips-tips atau lebih ke amalan-amalan apa saja sih yang dia rutin lakukan hingga bisa menjelajah beberapa negara, yang menurutku saat itu ia termasuk usia belia. Dari mulai rajin membaca Al-Waaqiah hingga shalawat untuk meraih mimpinya.

Cerita dimulai dari sana. Saat itu aku seorang yang masuk kategori tidak tahu mau masuk jurusan apa, mau kemana, pun punya cita-cita apa. Hahaha, untuk adik-adik tolong jangan ditiru mbak satu ini yah, tolong segera find your dream and make it comes true oke! Setelah baca ini semoga kalian wahai 'malunyaan' manusia belum punya tujuan (bukan manusia belum punya pasangan ya, tolong dicatet!) segera mendapatkan titik terang yang kalian sebut sebagai tujuan.
Foto Pribadi 2017

Nah, aku mulai tertarik untuk memiliki mimpi yang sama seperti Wirda saat itu, 'Kayaknya seru bisa ke luar negeri, pengen'. Berangkatlah aku mengikuti amalan-amalan yang wirda sebutkan tadi, termasuk kertas yang aku tempel di beberapa tempat dengan tulisan yang sama seperti gambar di atas (tulisannya harap dimaklumi yah). Pokoknya aku pepeeet terus Allah dengan sepenuh raga tapi separuh jiwa.

Atas izin Allah, Allah beneran mengabulkan doa-doa itu. Pada September 2019 pertama kalinya aku menginjakkan kaki di negeri tirai bambu untuk menyelesaikan program study ku setelah banyak penolakan-penolakan yang aku dapatkan. Long story short, aku tinggal di sana, adaptasi dengan budaya, makanan, hingga pola hidup di sana. Rasanya senang bukan kepalang tetapi seperti ada yang kurang. I couldn't figure it out. Hingga pandemi menyapa, aku makin merasa kayak di dalam diri aku berkecamuk. Seakan ada beberapa kelompok di dalam sana yang lagi berperang merebutkan kekuasaan.

Suatu ketika aku ada dititik mempertanyakan, aku sudah menggapai mimpiku loh, Allah sudah berikan itu padahal. Tetapi kenapa masih kurang? (Cerita ini bisa kalian baca di http://www.menapakikehidupan.my.id/2021/12/tips-meningkatkan-semangat-hidup.html?m=1) Dan, ketika aku krisis tujuan hidup, bersaman dengan itu perasaanku sedang terombang-ambing karena belum juga mendapat pekerjaan. Waw, double kill! hahaha.

Baiknya Allah, dari situ tuh aku mulai digerakkan hati untuk melakukan metode root cause analysis dan mencoba jujur ke diri sendiri. Dari mimpiku yang ingin ke luar negeri, saat itu dalam hati yang paling dalam aku tidak sepenuhnya tahu kenapa sih aku harus ke luar negeri? Kenapa sih aku harus memilih impian keliling dunia? Apakah agar aku kira ini mimpi yang tinggi, supaya sama kayak yang lain 'janganlah takut bermimpi tinggi'. Iya memang tinggi sih, tapi apakah ini yang aku butuh? Aku temui jawaban itu tahun lalu, dan jawabannya 'tidak sepenuhnya aku butuh, tidak sepenuhnya aku tahu'. Dan itulah kenapa aku mengatakan di paragraf sebelum-sebelumnya "Pokoknya aku pepeeet terus Allah dengan sepenuh raga tapi separuh jiwa." Inti permasalahan adalah mimpiku saat itu, bukan yang aku butuh pun bukan yang sepenuhnya aku mau.

Sehingga aku menemukan bahwa aku harus membetulkan niat dan tujuanku agar tidak lagi aku bertanya 'aku sudah dapat, lalu apa?'. Kemudian, aku mulai bertanya pada diri sendiri apa yang membuat aku tenang dan senang saat melakukannya. Hingga aku menemukan ketenangan ketika aku bisa mengingat-Nya, aku senang mencari tahu apa yang Ia suka. Aku mulai seleksi ulang beberapa impian yang dari dulu aku pegang. Beberapa yang sekiranya tidak membuatku meraih ridho Allah mulai aku singkirkan. Beberapa yang sekiranya lolos menjadi jembatan meraih ridho Allah, dalam doa-doaku sematkan. Alhamdulillah semenjak itu sekalipun ada guncangan, Allah memberi aku tenang.

Jika saat ini belum memiliki tujuan, coba direncanakan, buat daftar pilihan kemudian tetapkan. Hanya sekedar saran, lebih baik memilih ridho Allah sebagai tujuan. Karena jika ridho Allah sudah di dapatkan, insyaAllah hati akan ditenangkan, urusan akan dimudahkan, pikiran berisi kebaikan-kebaikan. Menyenangkan bukan?

Oiya, kelupaan. Coba telusuri makna ayat-ayat pada surat yang pasti kita baca saat sholat, di peramban. Seperti 'yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka (para nabi, shidiqqin, sahabat, dan pendahulu kita)' penuh cobaan, karena yaa surga yang jadi ganjaran. Mari saling menguatkan, supaya di surga kita bisa reunian.

Dari manusia yang masih sangat-sangat-sangat kurang dalam berilmu dan butuh lebih banyak bimbingan. Mohon maaf atas semua kesalahan.

Cheers! 

0 Comentarios