Mengeluh hanya akan menambah beban,
bukannya kelar malah tambah bercabang masalahmu. Iya, kamu mengeluarkan uneg-unegmu kamu
melampiaskannya dan kamu pun mengekspresikannya. Tapi apa dengan mengeluh ini
itu, nyalahin sana-sini masalahmu cepet kelar? Engga. Engga itu jawaban
pastinya.
Mending diem dulu, terus tarik
napas-hembuskan lakukan tiga kali sambil berpikir “apa yang kurang ya? Yang salah apa
ya?” bukan malah “ih salah dia ini, ih kok ngga selesai-selesai sih, ih ngga ada gunanya kayak ginian, ih kenapa harus gue sih? . Ih, ih, ih”. Dan ih-ih yang
lainnya.
Dear my b-friends, hidup kita terlalu indah
Cuma buat ngeluh ini-itu, waktu kita terlalu berharga buat mengomentari suatu
hal yang itu ga layak di permasalahkan, masih ada masalah yang lebih besar yang
harus kita pikirkan-dan-selesaikan dari pada mengeluh. Setidaknya diam kalau
belum bisa menemukan jalan.
Naluri manusia semula bersih, tinggal
pribadi bagaimana mengambil jalan dan memutuskan. Mau menjadi manusia tangguh
penuh akal untuk mencabut akar masalah atau mau jadi manusia lemah yang hanya
bisa menambah tanpa mengurangi masalah. Semua itu ada ditangan kita sebagai
manusia yang sudah diikrar dalam kesuciannya.
Keputusan tetap kita yang menentukan bukan
dari ayah, ibu, saudara, teman, dan atau siapapun mereka yang siap mempengaruhi
kita secara sadar maupun tidak sadar. Lingkungan memang bisa membentuk kita,
tapi mau jadi seperti apa kita itu kita yang putuskan. Mau merubah atau diubah,
kendali tetap ada ditangan kita.
Setiap kendaraan pasti ada supirnya, mau
kemana kita itu tergantung kita dan supirnya akan ikut keinginan kita mau pergi
kemana. Meskipun sang supir punya kendali atas kendaraan tersebut.
Memang sulit, tapi bukan berarti tidak
bisakan? Sedikit-sedikit dikurangi yaa. Bukan hanya diri sendiri yang merugi,
tapi orang lain juga. Karena penyakit mengeluh itu mudah menular walaupun tanpa
pelantara padat atau cair atau gas, hebat bukan? Jadi, dear my bestfriend,
hati-hati dengan penyakit ini ya ^.^
Jakarta, 20
November 2017
Dindarendraa