• Home
  • Contact Us
  • MENAPAK-i kehidupan

     


    Bismillah,

    Alhamdulillah atas izin Allah bisa membagi cerita di sini lagi. Hari ini aku baru saja memahami sebuah jawaban yang Allah berikan dari doa-doa yang telah aku langitkan. Jawaban itu tidak semua aku dapat dengan waktu  singkat. Ada yang berhari-hari, berbulan-bulan, kalau untuk bertahun alhamdulillah aku belum menemukannya. Hehe.

    Ada seorang ibu yang sudah sepuh, usia beliau sudah lebih dari setengah abad. Beliau bukan seorang perempuan yang memiliki sangat banyak materi tetapi segala sesuatunya selalu Allah cukupkan. Beliau jarang marah, nada bicara yang lembut, dan senang dalam melakukan berbagai kebaikan. Setiap ada seorang yang meninggal, beliau akan menyempatkan melayat, entah pagi setelah subuh atau malam hari. Beliau pasti menyempatkan. Suami beliau telah berpulang beberapa bulan yang lalu, tetapi beliau bisa begitu terlihat kuat, begitu terlihat ikhlas. Setiap beliau memiliki makanan atau rezeki lainnya, yang beliau pikirkan pertama kali adalah orang lain, bukan diri sendiri.

    Setiap mengingat hal ini, aku selalu bertanya. Kok bisa ya beliau terlihat damai? Kok bisa ya beliau begitu ikhlas menerima? Kok bisa ya beliau begitu ikhlas memberi? Kok bisa ya?

    Ada satu hal yang aku temukan. Beliau yakin, ya, beliau yakin bahwa Allah yang Maha Mengetahui, Allah yang Maha Pemberi, Allah yang Maha Melindungi, Allah yang Maha Segalanya. Beliau menggantungkan hidup sepenuhnya hanya kepada Allah SWT bersama dengan mengerjakan apa yang beliau bisa usahakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, beliau terus meminta kepada Allah.

    "Allah itu suka kalau kita minta yang banyak ke Allah." - Ustadz Hanan attaki & Ustadz Adi Hidayat

    Ketika selesai sholat beliau akan terduduk lama diatas sajadahnya. Beliau pernah mengatakan bahwa beliau mendoakan keluarganya, tetangga-tetangganya, teman-temannya, bahkan abang tukang bakso yang lewat pun masuk dalam daftar doa beliau. Pernah, beliau bercerita bahwa dulu saat masih sekolah, di kos beliau ada sebuah makam kecil di tengah halaman kos. Setiap hari, beliau bersama kedua temannya mendatangi makam tersebut untuk mendoakannya. Bahkan seseorang yang beliau tidak pernah bertemu di dunia pun beliau doakan.

    Kalau merujuk ke penggalan kalimat yang aku cetak miring, sepertinya ibu ini favorite Allah banget ya? Apa-apa dibawa ke doa, apa-apa dibawa "Pokoknya yakin aja deh sama Allah." Makanya Allah cukupkan, bahkan mungkin ibu itu ngerasanya Allah lebihkan.

    Kemudian aku mencoba melakukan hal yang sama. Tidak yang langsung bisa ikhlas banget itu, tidak. Aku mencoba dengan cara memaksakan diri. Doainnya orang-orang di sekitarku aja. Pelan-pelan juga buat yakin kalau Allah pasti akan ngasih yang terbaik. Dengan izin Allah, akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu hal. Allah itu pasti denger suara hati kita, cuma kitanya aja yang mau bersabar atau tidak menunggu jawaban dari Allah. 

    Pernah suatu hari di kos bareng sama Efrida, aku ngomong pengen makan A. Malemnya, mbak sama mas sepupu dateng ngasih itu makanan,  sampe Efrida tanya, "Loh dind, apa kamu bilang ke mbakmu kalo pengen A?" Tidak. Jawabannya tidak kawan-kawan. Aku saja tidak tahu kalau mbak mau ke kos ngirim makanan. Ada lagi, beberapa hari yang lalu aku pengen banget roti isi cokelat, tetapi yang ada cuma isi gula di rumah. Beberapa hari kemudian mbakku pulang kerumah, bawa roti isi cokelat dan diberikan kepadaku. Ada lagi, aku berencana mau beli sumpit dari sebulan yang lalu kurang lebih. Tiba-tiba, Efrida bilang di grup kalau Ida ngirim kado buat aku, dan salah satunya ada sumpit.

    Tidak hanya itu jawaban-jawaban yang Allah beri. Masih banyak lagi. Semoga teman-teman menemukan jawaban dari doa-doa kalian. Janji Allah itu pasti.

    Selamat malam.



    Bismillah,

    Akhir-akhir ini cukup berat untuk dijalani, tetapi tidak yang sampai aku menyatakan ingin menyerah saja. Kegagalan demi kegagalan kali ini mengantarkanku pada banyak pemahaman baru. Aku mulai belajar lagi bagaimana memperbaiki diri dan hidupku. Ya, aku mulai mencari kerja. Aku mulai menentukan target akan seperti apa diriku di masa yang akan datang. Aku mulai mencari motivasi terkuat agar aku juga semakin kuat untuk bertahan.

    Dulu, aku sempat memiliki mimpi ingin berkeliling ke luar negeri. Alhamdulillah, atas izin Allah, aku mendapat beasiswa Sarjana dari pemerintah Kabupaten Boyolali (terima kasih aku ucapkan sebesar-besarnya kepada pemerintah Kabupaten Boyolali yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan ini kepadaku).

    Sesampainya pada semester akhir, aku mulai mempertanyakan pada diriku sendiri, aku sudah mendapatkan apa yang dahulu aku doakan, apa yang dulu aku impikan. Tetapi, dalam hati yang paling dalam aku bertanya, "Kok aku tidak merasa bahagia ya? Kok ada yang mengganjal ya?". Ya, setelah aku mendapatkan mimpiku, aku kehabisan mimpi, sehingga aku seperti orang yang kehilangan arah. Tidak ada tujuan, tidak ada motivasi yang kuat untukku terus melangkah maju. Kegagalan yang telah aku lalui di masa itu pun menjadikanku takut untuk mengambil resiko baru.

    Aku sadar, tanggungjawabku saat ini bukan hanya diriku, bukan hanya keluargaku, tapi ada nama baik pemerintah Kabupaten Boyolali dan kedua kampus yang mengantarkanku sampai sejauh ini. Aku paham betul akan itu, dan dulu itu juga menjadi salah satu penyebab perasaan tertekan yang semakin bertambah. Alhamdulillah, atas izin Allah, sekarang aku berusaha menjadikan itu sebagai motivasiku untuk bangkit, motivasiku untuk memperbaiki diri, dan motivasiku untuk berjuang hingga akhir.

    Aku sudah memutuskan bagaimana aku nanti. Tidak, aku tidak akan membagikan apa rencanaku di masa mendatang di sini. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa,

    “Maka ingatlah Aku, niscaya Aku pun mengingatmu.” (QS. Al Baqarah: 152)

    Setiap aku merasa lelah aku berusaha untuk meminta petujuk kepada Allah. Bukan, bukan doaku untuk mendapat apa yang aku mau langsung diijabah saat itu juga. Tetapi Allah menghadiahiku pemahaman tentang bagaimana aku harus bersabar menunggu dan berusaha, bagaimana aku berjuang untuk menerima dan kembali bangkit, bagaimana aku kehilangan teman dan belajar mengakui kesalahan karena aku masih kurang berperan dalam menjadi teman juga belajar mengakui jika aku menyayangi mereka, bagaimana keluarga benar-benar memberikanku kepercayaan untuk memutuskan pilihan dan selalu mendukungku, bagaimana aku mendapat kedamaian padahal aku belum mendapat panggilan, bagaimana aku mendapat motivasi untuk memulai menulis kembali, dan masih banyak pelajaran yang Allah berikan di balik kegagalan-kegagalanku kali ini.

    Keren-Nya, Allah masih menghadiahiku teman-teman yang sering menanyakan kabar, teman-teman yang sering memberikan dukungan, teman-teman yang sering mengirimkan lowongan, teman-teman yang ringan memberikan saran, rezeki berupa pelanggan.

    Untuk teman-teman yang sering khawatir bagaimana aku sekarang, Alhamdulillah aku sangat baik. Semoga kalian juga yaa.

    Dan, untuk yang sedang berjuang, semoga Allah selalu membuat hati kalian lapang.


    Cheers!


        

    www.goodreads.com

        Hari ini aku telah sampai pada halaman 73 buku Jika Kita tak Pernah Jadi Apa-Apa karya Alvi Syahrin. Dimana setiap selesai membaca per-bab-nya aku selalu mengaamiinkan apa yang beliau tulis. Benar, oh iya ya, haha aku juga pernah mengalaminya. Dari mulai "Saat usiamu 25 nanti", "Pengin cepat-cepat lulus aja", sampai pada bab yang membuatku ingin membagikan ini, "Hanya Murid Rata-Rata yang Tak Penting". Pada bab ini, bang Alvi membagikan kisah tentang bagaimana seorang yang berprestasi pasti akan memikul ekspektasi dari orang-orang terdekat mereka, bahkan dari diri mereka sendiri. 


        "Mereka yang senantiasa menduduki peringkat teratas? Mereka sudah dikenal sebagai murid dengan peringkat terbaik, mereka punya reputasi itu, identitas mereka sudah lekat dengan itu. Orang-orang berekspektasi pada mereka. Dan, itu jadi tekanan tersendiri."

        "Seharusnya, kita bisa menulis kisah di lembaran baru dengan lebih santai. Kanvas masih putih. Tak perlu membandingkan denga rekor masa lalu. Tak ada yang berekspektasi. Tak ada yang menyaksikan. It's just us and our own story."

     

        Selaras dengan jawaban mbak Gitajunn dari pertanyaan "Mengapa banyak anak muda sekarang yang depresi?"di Quora, mbak Gita merupakan perempuan dengan prestasi yang gemilang. Akan tetapi, dibalik itu semua beliau juga menanggung begitu besar ekspektasi dari orang lain dan dari dalam dirinya. Berulangkali mengalami depresi dan berusaha untuk sembuh. Hingga beliau bisa menyimpulkan bahwa :

        

    "Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa depresi ini disebabkan oleh diri saya sendiri yang terlalu banyak standar. Begitu juga dengan anak-anak muda lainnya. Untuk mencapai sebuah standar, mereka sampai lupa bahwa mereka seharusnya bahagia, bukan memenuhi standar."

     

         Hidup ditengah masyarakat dengan kepribadian yang tentu saja berbeda-beda menjadikan kita manusia yang harus banyak mendengar pendapat yang berbeda-beda pula. Mereka punya penilaian sendiri terhadap kita. Dan, kita mempunyai penilaian untuk diri kita sendiri. Tidak melulu kita harus mengikuti apa yang mereka sampaikan. Ada bagian dimana kita harus menerimanya, ada bagian dimana kita harus mengesampingkannya. Penilaian itu tidak akan pernah berhenti, tidak akan ada habisnya.

        Dari dua kutipan diatas, hal yang ingin bang Alvi dan mbak Gita sampaikan adalah sama, mereka ingin agar kita tetap bisa hidup tanpa beban yang bernama ekspektasi. Kita pasti bisa menemukan jalan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Kita yang bertanggung-jawab akan hidup kita, dan kita memiliki kendali atas itu. Selama apa yang kita lakukan memberikan kita ketenangan jiwa dan tidak merugikan orang lain, orang-orang disekitar kita perlahan juga akan membiarkan kita atau bahkan mendukung kita. Mungkin sebagian mereka akan tetap menaruh ekspektasi-ekspektasi itu, tetapi selama kita tidak menerimanya, kita tidak akan pernah merasa terbebani.


    Referensi :

    https://id.quora.com/Mengapa-banyak-anak-muda-sekarang-yang-depresi?top_ans=305510165

    Jika Kita tak Pernah Jadi Apa-apa karya Alvi Syahrin

    Newer Posts Older Posts Home

    Quote

    There is no easy things in this world without blessing that Allah gives.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • Petualang
    • Janji Allah itu Pasti
    • Cara Ampuh Meningkatkan Semangat Hidup

    Search This Blog

    Blog Archive

    • ►  2022 (7)
      • ►  July (1)
      • ►  April (1)
      • ►  March (1)
      • ►  February (2)
      • ►  January (2)
    • ▼  2021 (4)
      • ►  December (1)
      • ▼  September (3)
        • Janji Allah itu Pasti
        • Pelajaran yang Datang Bersama Kegagalan
        • Beban Itu Bernama Ekspektasi
    • ►  2019 (2)
      • ►  December (1)
      • ►  September (1)
    • ►  2018 (2)
      • ►  April (1)
      • ►  March (1)
    • ►  2017 (5)
      • ►  November (5)
    Powered by Blogger.

    Report Abuse

    • Beranda

    About Me

    My photo
    Dindarendraa's
    View my complete profile

    Pengikut D

    Popular Posts

    • Petualang
    • Apa yang membentuk kita?
    • Janji Allah itu Pasti
    • Masih Belum Punya Tujuan Hidup

    Trending Articles

    • Petualang
    • Janji Allah itu Pasti
    • Cara Ampuh Meningkatkan Semangat Hidup

    Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi