Bismillah,
Alhamdulillah atas izin Allah bisa membagi cerita di sini lagi. Hari ini aku baru saja memahami sebuah jawaban yang Allah berikan dari doa-doa yang telah aku langitkan. Jawaban itu tidak semua aku dapat dengan waktu singkat. Ada yang berhari-hari, berbulan-bulan, kalau untuk bertahun alhamdulillah aku belum menemukannya. Hehe.
Ada seorang ibu yang sudah sepuh, usia beliau sudah lebih dari setengah abad. Beliau bukan seorang perempuan yang memiliki sangat banyak materi tetapi segala sesuatunya selalu Allah cukupkan. Beliau jarang marah, nada bicara yang lembut, dan senang dalam melakukan berbagai kebaikan. Setiap ada seorang yang meninggal, beliau akan menyempatkan melayat, entah pagi setelah subuh atau malam hari. Beliau pasti menyempatkan. Suami beliau telah berpulang beberapa bulan yang lalu, tetapi beliau bisa begitu terlihat kuat, begitu terlihat ikhlas. Setiap beliau memiliki makanan atau rezeki lainnya, yang beliau pikirkan pertama kali adalah orang lain, bukan diri sendiri.
Setiap mengingat hal ini, aku selalu bertanya. Kok bisa ya beliau terlihat damai? Kok bisa ya beliau begitu ikhlas menerima? Kok bisa ya beliau begitu ikhlas memberi? Kok bisa ya?
Ada satu hal yang aku temukan. Beliau yakin, ya, beliau yakin bahwa Allah yang Maha Mengetahui, Allah yang Maha Pemberi, Allah yang Maha Melindungi, Allah yang Maha Segalanya. Beliau menggantungkan hidup sepenuhnya hanya kepada Allah SWT bersama dengan mengerjakan apa yang beliau bisa usahakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, beliau terus meminta kepada Allah.
"Allah itu suka kalau kita minta yang banyak ke Allah." - Ustadz Hanan attaki & Ustadz Adi Hidayat
Ketika selesai sholat beliau akan terduduk lama diatas sajadahnya. Beliau pernah mengatakan bahwa beliau mendoakan keluarganya, tetangga-tetangganya, teman-temannya, bahkan abang tukang bakso yang lewat pun masuk dalam daftar doa beliau. Pernah, beliau bercerita bahwa dulu saat masih sekolah, di kos beliau ada sebuah makam kecil di tengah halaman kos. Setiap hari, beliau bersama kedua temannya mendatangi makam tersebut untuk mendoakannya. Bahkan seseorang yang beliau tidak pernah bertemu di dunia pun beliau doakan.
Kalau merujuk ke penggalan kalimat yang aku cetak miring, sepertinya ibu ini favorite Allah banget ya? Apa-apa dibawa ke doa, apa-apa dibawa "Pokoknya yakin aja deh sama Allah." Makanya Allah cukupkan, bahkan mungkin ibu itu ngerasanya Allah lebihkan.
Kemudian aku mencoba melakukan hal yang sama. Tidak yang langsung bisa ikhlas banget itu, tidak. Aku mencoba dengan cara memaksakan diri. Doainnya orang-orang di sekitarku aja. Pelan-pelan juga buat yakin kalau Allah pasti akan ngasih yang terbaik. Dengan izin Allah, akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu hal. Allah itu pasti denger suara hati kita, cuma kitanya aja yang mau bersabar atau tidak menunggu jawaban dari Allah.
Pernah suatu hari di kos bareng sama Efrida, aku ngomong pengen makan A. Malemnya, mbak sama mas sepupu dateng ngasih itu makanan, sampe Efrida tanya, "Loh dind, apa kamu bilang ke mbakmu kalo pengen A?" Tidak. Jawabannya tidak kawan-kawan. Aku saja tidak tahu kalau mbak mau ke kos ngirim makanan. Ada lagi, beberapa hari yang lalu aku pengen banget roti isi cokelat, tetapi yang ada cuma isi gula di rumah. Beberapa hari kemudian mbakku pulang kerumah, bawa roti isi cokelat dan diberikan kepadaku. Ada lagi, aku berencana mau beli sumpit dari sebulan yang lalu kurang lebih. Tiba-tiba, Efrida bilang di grup kalau Ida ngirim kado buat aku, dan salah satunya ada sumpit.
Tidak hanya itu jawaban-jawaban yang Allah beri. Masih banyak lagi. Semoga teman-teman menemukan jawaban dari doa-doa kalian. Janji Allah itu pasti.
Selamat malam.


