Apa yang membentuk kita?

Kawan, pernah terpikirkan tidak apa yang telah kita perbuat hari ini? Apa yang baru saja kita ucapkan? Apa yang baru saja kita lakukan? Dulu kita bayi yang cuma bisa menangis loh, ga ada bayangan deh kita bisa ngomong A sampai Z seperti hari ini, ngelakuin itu-ini. Kok bisa ya?

Karena manusia punya tahapan bertumbuh, dind.  Dari yang mulai memperhatikan wajah manusia disekitar, mendengarkan percakapan mereka, meniru tingkah laku mereka, dan seterusnya.

Yaps betul, ada sesuatu yang terinput ke dalam otak dari melihat dan mendengar sekitar kita. Sehingga sesuatu itu tertanam di dalam otak kita. Akhirnya, kita tahu bagaiman cara berbicara. Kita tahu bagaimana cara mengendarai sepeda. Kita tahu bagaimana mengoperasikan benda mati yang ada hurufnya. Kita tahu kalau yang ada cahaya, jauh diatas sana, dan panas itu matahari. Kita tahu kalau yang dipakai di tubuh itu baju. Kita tahu kalau yang sudah terlewatkan itu ya cukup diikhlaskan bukan memperpanjang penyesalan, hahaha bercanda. Kita bisa mendeskripsikan banyak hal, paham bagaimana mengoperasikannya, dan megetahui apa kegunaannya. Itu di dapat dari sesuatu yang masuk ke dalam otak kita yang disebut INFORMASI.

Nah, kita hari ini pun sama. Apa yang masuk ke otak kita secara terus-menerus, itulah yang membentuk siapa kita hari ini. Kawanku, apakah kalian pernah punya mimpi ingin menjadi orang yang bermanfaat? Apakah kalian sekarang malah merasa menjadi beban keluarga atau sekarang sudah mulai tercapai mimpi itu walaupun sedikit demi sedikit? Jika belum, coba deh kita cek ke dalam otak kita. Jangan-jangan kita salah menginput informasi.

Gimana tuh caranya? Oke, kita coba dari yang sering banget kita buka ya. Misal instagram, akun apa sajakah yang paling-paling banyak kita follow? Konten apa yang mereka suguhkan? Misal, Makan-makan saja atau masak-masak juga? Biasanya kalau lihat yang makan-makan saja kita jadi ikutan laper kan ya? Pengen makan terus, masak kaga. Kalau masak-masak walaupun laper kan jadi dapat ilmu cara memasak yang insyaAllah bisa bermanfaat ketika merantau maupun sudah menjadi istri nanti, jiakh. Jadi, maksud lu ga boleh nonton acara makan-makan gitu? Jadi, maksud lu acara makan-makan itu konten ga bermanfaat gitu? Kan, MISAL oi MISAL! Jadi, boleh kan ya nonton acara makan-makan? Boleh, monggo kalau itu sesuai dengan output yang anda inginkan. Mungkin anda ingin menjadi food vlogger, jadi anda perlu lebih banyak input tentang makanan agar output yang anda keluarkan berupa penjabaran yang mudah dipahami.

Ah! Itu kan cuma sebentar aja lewat di beranda. Lebay lu, dind! Eits, tunggu dulu! Kira-kira berapa kali kita buka instagram sehari? Akun serupa yang kita follow apakah cuma satu aja? Apakah akun tersebut cuma upload sekali seminggu? Jika tidak, hati-hati ya teman. Kita terbentuk dari informasi yang kita input ke dalam otak berulang kali, ya walaupun sedikit-sedikit walaupun sebentar-sebentar tapi kalau berulang, otak akan merekam itu dan membentuknya menjadi sebuah output.

Ini baru contoh instagram saja yah, belum media sosial yang lain, belum siapa yang sering kita ajak diskusi, belum lingkungan kita, belum buku yang kita baca, belum tempat yang sering kita kunjungi. Itu semua ladang informasi gratis, yang mudah terserap oleh otak kita.

Di dunia yang makin massive informasi ini, rasanya semua terdengar, terlihat, terasa sah-sah saja ya? Nonton ini ah, kan cuma sekali. Nonton itu ah, kan banyak juga yang nonton. Kita hanyut, terbawa arus, dan saat tiba di laut lepas, kita gelagapan berenang untuk menepi. Tapi pertanyaannya, apakah kita sanggup berenang ketepian saat sudah berada di tengah lautan?

Apabila hati kita mulai memberi sinyal buruk, semacam alarm kebakaran ketika kita melakukan sesuatu hal. Tolong jangan diabaikan. Coba deh telusuri dulu informasi apa yang tanpa sadar terinput secara berulang ke dalam otak kita. Jangan-jangan informasi itu yang membuat output yang bertentangan dengan hati kita.

Suudzon mulu lu, dind. Lah, kok? Itu, jangan-jangan, jangan-jangan mulu. Cuma bantu ngajak berpikir aja sih, manusia kan dianugerahi akal. Dan, setan senantiasa bergembira membuat tipu daya. Kalau kita tidak selektif, dengan mempertanyakan terhadap apa yang otak kita konsumsi, mudah bagi setan mengelabui.

Yee, ujung-ujungnya bawa agama. Iyaa, soalnya kalau bawa dosa, berat. Kita tidak akan kuat.

Mau diresapi kemudian dipahami, alhamdulillah. Mau diabaikan kemudian ditinggalkan, semoga suatu hari terketuk hati untuk berkunjung dan membaca kembali.

sisipan


Dari manusia yang masih butuh banyak bimbingan, banyak kesalahan dan kurang pengetahuan, mohon dimaafkan. Dari manusia yang masih minim ngaji, pamit undur diri.

Cheers!

0 Comentarios