Kamu mau mencari yang namanya kebahagian itu kemana lagi? Dinegeri mana yang ingin kau datangi agar kamu bisa merasa bahagia? Barang apa yang ingin kamu beli agar kamu bisa merasa bahagia? Seorang seperti apa yang ingin kamu nikahi agar kamu bisa merasa bahagia? Standard hidup semacam apa yang kamu damba agar kamu bisa merasa bahagia? Kamu kata kamu belum bahagia karena belum mendapatkan apa yang selama ini kamu damba. Berkacalah, pahamilah, sadarilah, sesuatu yang kau beri nama kebahagiaan itu sebenarnya ada didekatmu. Ia selalu membersamaimu. Hanya saja kamu kurang peka merasakannya.
Sesekali cobalah scroll kontak ibu atau ayah atau orang yang kau cintai diponselmu, lalu tekan nama itu dan cobalah membuka pembicaraan dengan mereka. Ada sedikit rasa ringan dihatimu bukan? Atau saat kamu tak sengaja menemukan anak kucing kelaparan disamping jalan dan kamu memberinya makan, kamu ikut merasakan kenyang bukan? Atau saat kamu merapihkan isi lemari dan kamu temukan barang yang begitu istimewa bagimu, kamu akan menyunggingkan senyum bukan? Atau saat kamu berhasil mendapatkan nilai memuaskan atas hasil belajarmu pagi sampai larut malam, melegakan bukan? Atau saat kamu tak sengaja menemukan sesuatu yang telah lama kamu anggap sudah hilang, hatimu akan bungah bukan? Semua itu, yang namanya kebahagiaan. Semua itu dekat, dan sangat mudah kau dapat.
Kamu terlalu menuruti gengsimu, sampai lupa memberi jeda untuk hatimu merasakan kebebasan. Kamu terlalu menekan perasaanmu hingga kamu tak bisa merasakan kecukupan. Kamu lupa apa yang sudah kamu punya, dan menganggap itu bukan sebuah kebahagian. Dari semua yang aku katakan, masih ada banyak yang bisa mendatangkan kebahagiaan. Standard kebahagiaanmu tolong direndahkan, gengsimu tolong diturunkan. Ada banyak hal yang bisa kamu lihat dan kamu rasa agar kamu bisa bahagia.
Sini, duduk sebentar saja. Rasakan bagaimana nafasmu masih terus berhembus bersamaan dengan tiupan angin yang membelai wajahmu. Hari ini sudah cukup berat dan membuatmu penat bukan? Kamu tidak perlu lagi jauh-jauh mencari bahagia ya.. dia dekat bahkan sangat dekat.
Teruntuk hati yang patah,
Entah karena memutuskan berpisah ataupun harap yang tak pernah terbalas. Saat ini dunia serasa tak utuh, kau kehilangan apa yang selama ini hangat dalam genggaman dan kau terluka saat perasaanmu belum tumbuh sempurna. Kau kehilangan kaki yang biasa menemanimu berlari, kau kehilangan tangan yang biasa erat menggenggam, kau kehilangan tubuh yang hangat mendekap, kau kehilangan sosoknya yang selama ini hadir mengisi ruang dihatimu.
Duniamu hancur saat kata pisah menjadikan kau dan dia asing, bertemu tanpa sapaan berpapasan tanpa menatap mata. Kau kehilangan apa yang selama ini penting. Senyum manisnya tak lagi milikmu, hancur tak berbentuk tapi kau harus tetap kuat untuk melanjutkan hidup. Berkali-kali kau mengutuk diri dan mencari jalan untuk mengajaknya kembali membenahi apa yang selama ini kau anggap tak sempurna lagi.Kau berpura-pura lupa bahwa hatinya sudah tak seperti saat ia mempercayakan perasaannya kepadamu. Kemarin, remuk yang tak nampak oleh yang lain tapi jelas bagimu itu berusaha tak kau anggap dan hari ini kau ingin memperbaikinya lagi? Pikirnya, “kau gila?”.
Sayang, aku setuju dengannya jika kau sekarang ingin membenahi apa yang kemarin lusa telah kau anggap cukup sampai disini. Aku setuju, mungkin saja saat kau bilang cukup, luka yang terbentuk tidak akan segera sembuh, bisa dua sampai tiga tahun mungkin untuk ia bisa benar-benar utuh dan kemudian menemukan apa yang selama ini ia butuh, mungkin saja sosok yang bukan dirimu, atau seorang yang mirip sepertimu dan bisa jadi itu kamu. Bukankah perihal jodoh diantara kita tiada yang tahu? Tapi tidak sepenuhnya aku menganggap kau salah dan ia benar dengan segala rasa sakit yang ia utarakan itu.
Bagimu, memilih untuk melepaskan atau bertahan adalah suatu hal yang telah lama jadi beban diotakmu dan gelisah yang terus menghantuimu. Kau takut akan segala resiko yang akan menimpamu setelah kau memutuskan memilih diantara pilihan itu. Bertahan kesakitan karena sudah tak sejalan, memutuskan kehilangan dan takut menyesal. Ah! Diantara keduanya kau terus saja bimbang. Akhirnya kau mencoba peruntungan untuk tetap bertahan, berharap hatimu itu kuat bertahan dan kembali bisa nyaman. Tapi apa yang kau dapat? Bahagia tidak, tersiksa iya.
Kau sudah berusaha mengubah segala perilaku buruknya agar ia bisa membuatmu kembali merasa aman berada disisinya, tapi usahamu tak ada hasilnya. Nyatanya, kau belum bisa menerima sebenar-benarnya dia.Selama “menerima” adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan jangan harap bertahan adalah hal yang baik untuk menjadi pilihan. Selain kau, bisa jadi ia juga sama tersiksanya.