Apa
kabar dengan hidupmu yang semula berwarna merah, biru, kuning, hijau, dan
berbagai warna cantik lainnya yang diwakilkan senyummu itu? Apa sekarang warna
itu masih sama banyaknya? Karena aku ragu, bertemu denganku bukan membiaskan
warnamu dan menambah warna baru tetapi malah mengabu-abukan pelangi milikmu.
Apa
kabar dengan terang yang selalu menemani sorot matamu? Masihkah seterang saat
belum bertemu denganku? Atau terang itu semakin kentara semenjak aku ada di
bayang-bayangmu? Apakah kau yakin dengan dirimu bahwa sorot itu sama sekali
belum berubah, menjadi remang-remang atau bahkan meredup? Karena aku ragu,
hidupku yang statis dan hanya memiliki satu penerangan yang tidak pernah
bertambah ini telah berani menapaki kehidupanmu.
Jika
aku tanyakan ini kepadamu pasti kau akan bilang “Jangan berpikir seperti ini”.
Kau keterlaluan ya? Hanya dengan satu kalimat empat kata dan duapuluh empat
huruf itu beraninya menyuruhku berhenti memikirkan hal ini. Aku menyentuh hatimu
tapi kau bukan milikku, aku merasa secercah rasamu tapi aku tahu diri, bukan
seluruh hanya separuh dari separuh dan separuh separuhnya lagi.
Jika
semua ini suatu kesalahan, tolong beritahu aku. Aku yang tidak berani
kehilanganmu, tapi aku tahu semenjak bertemu denganku bukan hal yang baik untukmu.
Aku yang mencintai seorang pangeran dari sebuah kerajaan, bukan seorang
pangeran yang menginginkan perempuan biasa sepertiku. Akan tetapi, aku sangat
berterimakasih telah diperbolehkan mengetuk, melenggang masuk, dan bertamu.
Dengarkan baik-baik yaa, aku tidak akan berpindah rasa jika kau tetap memeberiku ruang seakan aku ini tetap seorang yang kau ingini tanpa kau minta untuk dimiliki. Dengan begini aku rasa aku keras kepala ya? Iya. Lalu jika seperti ini, dengan kau sadar bahwa aku tetap bertahan apa kau juga bertahan?
0 Comentarios