Beban Itu Bernama Ekspektasi

    

www.goodreads.com

    Hari ini aku telah sampai pada halaman 73 buku Jika Kita tak Pernah Jadi Apa-Apa karya Alvi Syahrin. Dimana setiap selesai membaca per-bab-nya aku selalu mengaamiinkan apa yang beliau tulis. Benar, oh iya ya, haha aku juga pernah mengalaminya. Dari mulai "Saat usiamu 25 nanti", "Pengin cepat-cepat lulus aja", sampai pada bab yang membuatku ingin membagikan ini, "Hanya Murid Rata-Rata yang Tak Penting". Pada bab ini, bang Alvi membagikan kisah tentang bagaimana seorang yang berprestasi pasti akan memikul ekspektasi dari orang-orang terdekat mereka, bahkan dari diri mereka sendiri. 


    "Mereka yang senantiasa menduduki peringkat teratas? Mereka sudah dikenal sebagai murid dengan peringkat terbaik, mereka punya reputasi itu, identitas mereka sudah lekat dengan itu. Orang-orang berekspektasi pada mereka. Dan, itu jadi tekanan tersendiri."

    "Seharusnya, kita bisa menulis kisah di lembaran baru dengan lebih santai. Kanvas masih putih. Tak perlu membandingkan denga rekor masa lalu. Tak ada yang berekspektasi. Tak ada yang menyaksikan. It's just us and our own story."

 

    Selaras dengan jawaban mbak Gitajunn dari pertanyaan "Mengapa banyak anak muda sekarang yang depresi?"di Quora, mbak Gita merupakan perempuan dengan prestasi yang gemilang. Akan tetapi, dibalik itu semua beliau juga menanggung begitu besar ekspektasi dari orang lain dan dari dalam dirinya. Berulangkali mengalami depresi dan berusaha untuk sembuh. Hingga beliau bisa menyimpulkan bahwa :

    

"Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa depresi ini disebabkan oleh diri saya sendiri yang terlalu banyak standar. Begitu juga dengan anak-anak muda lainnya. Untuk mencapai sebuah standar, mereka sampai lupa bahwa mereka seharusnya bahagia, bukan memenuhi standar."

 

     Hidup ditengah masyarakat dengan kepribadian yang tentu saja berbeda-beda menjadikan kita manusia yang harus banyak mendengar pendapat yang berbeda-beda pula. Mereka punya penilaian sendiri terhadap kita. Dan, kita mempunyai penilaian untuk diri kita sendiri. Tidak melulu kita harus mengikuti apa yang mereka sampaikan. Ada bagian dimana kita harus menerimanya, ada bagian dimana kita harus mengesampingkannya. Penilaian itu tidak akan pernah berhenti, tidak akan ada habisnya.

    Dari dua kutipan diatas, hal yang ingin bang Alvi dan mbak Gita sampaikan adalah sama, mereka ingin agar kita tetap bisa hidup tanpa beban yang bernama ekspektasi. Kita pasti bisa menemukan jalan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Kita yang bertanggung-jawab akan hidup kita, dan kita memiliki kendali atas itu. Selama apa yang kita lakukan memberikan kita ketenangan jiwa dan tidak merugikan orang lain, orang-orang disekitar kita perlahan juga akan membiarkan kita atau bahkan mendukung kita. Mungkin sebagian mereka akan tetap menaruh ekspektasi-ekspektasi itu, tetapi selama kita tidak menerimanya, kita tidak akan pernah merasa terbebani.


Referensi :

https://id.quora.com/Mengapa-banyak-anak-muda-sekarang-yang-depresi?top_ans=305510165

Jika Kita tak Pernah Jadi Apa-apa karya Alvi Syahrin

0 Comentarios